Bisnis Online

Bidadari-Bidadari Surga

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam telah bersabda: “Selalu wasiatkan kebaikan kepada para wanita....

Penaklukan Konstantinopel

Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih dahulu,....

Terompet Malaikat Isrofil

Sebelum kiamat datang, apa yang sekarang di lakukan oleh Malaikat Israfil?. Lalu seperti apakah sebenarnya bentuk terompetnya atau yang biasa juga dikenal dengan sangkakala Malaikat Israfil itu?...

Sang Pedang Allah

Khalid ibn Al-Walid adalah salah satu jenderal Arab yang sangat dikenal di awal penaklukan Islam Abad ke-7, tercatat akan kemampuan militernya dalam memimpin pasukan-pasukan Muhammad dan dua Khulafaur Rasyidin pertama....

Awal Mula Terciptanya Alam Semesta

Bagaimana alam semesta berawal adalah pertanyaan yang mempesona manusia sepanjang jaman. Pada abad ke-16 Copernicus mengemukakan teori bahwa matahari tidak mengelilingi bumi tapi bumilah yang justru mengelilingi matahari....

Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Saturday, January 1, 2011

Melangkah Pasti

Sering dalam keadaan kepepet seseorang jadi berpikir kreatif. Bukankah ketika semua jalan sudah tertutup dan buntu, mau tak mau memanfaatkan yang ada disekitar. Dengan modal seadanya harus mencapai target-target besar. Ketika terkepung oleh pasukan sekutu dalam perang ahzab, terbitlah ilham kreatif dari seorang Salman al-Farisy. Waktu itu, di Arab, tidak mengenal taktik perang khandaq, parit. Nyatanya dengan ide itu pasukan Islam menyongsong kemenangan.

Sebaliknya, dalam keadaan normal. Ide-ide itu muncul menjadi liar. Bahkan keadaan ini membuat pikiran terlalu melambung jauh dari realita. Dalam kondisi yang anteng-anteng orang justru terbuai. Lari dari fokus atau sibuk berkelahi sesama. Contohnya, reformasi ini ketika kran kebebasan dibuka penuh, lagi-lagi gagal dimanfaatkan. Karena semua merasa bebas. Semua merasa berhak untuk berteriak. Semua ingin menanmpilkan diri, akibatnya terjadilah benturan antar umat Islam sendiri. Peluang itu pun kembali tertutup oleh ego masing-masing.

Tapi, ketika terjadi bencana Perang Ambon, tsunami dan erupsi merapi. Umat Islam dipaksa untuk bersatu. Bencana Merapi yang begitu dahsyat dan panjang ini jelas membutuhkan tenaga ekstra. Memang mula-mula, bekerja sendiri-sendiri. Tapi, begitu melihat besarnya wilayah apalagi waktunya yang panjang. Mulailah mereka menyatukan kekuatan. Bekerja sendiri hanya akan menguras stamina, atau malah berbenturan.

Taktik inilah yang dipakai musuh-musuh Islam. Pada letusan Merapi 2006 silam, ketika relawan muslim sudah loyo, baik stamina apalagi dana, justru saat begitu, pihak non muslim datang. Mereka mengambil alih semua kerja keras relawan muslim. Akhirnya seperti kata petani, mereka tinggal memetik buah.

Belajar dari pengalaman 2006 lalu, maka relawan muslim tak bisa bekerja sendiri. Tak bagus saling berebut lahan. Tak baik menurutkan ego berebut menancapkan bendera, bahwa pihaknyalah yang paling cepat dan paling hebat.

Itu dalam hal kondisi lingkungan. Terus bagaimana kaitannya dengan usia. Pandangan seorang remaja tentu berbeda dengan seorang syaikh. Seorang pemula beda lagi pemikirannya dengan seorang kader. Beda lagi dengan seorang Pendiri. Dakwah walisongo tentu berbeda dengan masa kolonial dan berbeda gaya dengan era digital.

Sayang memang bila ada seorang aktivis yang melangkah maju mundur, jalan di tempat atau futur. Betapa banyak mereka yang dulu bersemangat hingga berlebih. Kerjanya memaki rekan aktivis lain. Idealisme mereka melambung jauh dari relitas. Tapi, ketika masalah yang sama datang menimpa, mereka pun tidak jauh berbeda.

Ketika remaja, ada rekan yang mengecam seorang dai, yang menerima amplop. Tapi, begitu usia bertambah dan kebutuhan bertambah, apalagi sudah berumah tangga. Telebih jam terbang sudah tinggi, maka mobilitas yang tinggi dari seorang penceramah itu membutuhkan biaya operasional yang tinggi pula. Maka urusan dapur tidak ngebul akan berdampak terhadap mobilitas dakwah. Apalagi kalau memikirkan manajemen personal branding. Dakwah pun menuntut manajemen profesional.

Orang yang terbiasa bekerja sendiri, ketika harus berorganisasi, maka harus punya stok kesabaran lagi. Karena setiap manusia memang punya kebiasaan, bakat dan inteletual yang berbeda. Ada yang pintar membuat konsep, tapi ada juga yang aktif bergerak, ada yang mengandalkan tenaga. Tidak mungkin setiap orang harus bergaya seperti dirinya.

Sayangnya kesadaran itu kadang datang setelah terbentur oleh situasi dan kondisi. Seperti remaja masjid tadi, yang ketika menjadi penceramah dia baru merasakan betapa pentingnya uang transpor. Seperti orang yang biasa bekerja sendiri, menyadari betapa pentingnya organisasi. Seperti ketika musibah baik bencana alam maupun perang, betapa pentingnya bekerja sama, saling membagi peran. Dus harus ada kerja yang rapi.

Seorang ustadz yang aktivis dakwah tenang saja ketika mendapat bertubi-tubi pertanyaan atau gugatan dari binaannya. Kenapa begini, kenapa sekarang kita lembek, kenapa harus langkah ini? Dengan penuh keyakinan sang ustadz menjawab, ”Nanti mereka akan mengikuti langkah kita!”

Imam Hasan al-Bana meyakinkan pada binaannya bahwa dakwahnya adalah bagian dari Da’wah Salafiyah. Dakwah yang menyeru kembali kepada sumber Ilmu secara murni, yaitu dari kitabullah dan sunah rasul-Nya. Dakwah yang bercirikan Tariqat Suniyah, karena mempraktekkan sunnah yang suci dalam segala hal, khususnya dalam masalah aqidah, ibadah dsb.

Dakwah yang tidak meninggalkan Hakikat sufiyah: karena mereka mengetahui bahwa pondasi kebaikan adalah kebersihan jiwa, kesucian hati, dan membiasakan diri untuk beramal, berpaling dari makhluk, dan mencintai karena Allah, serta terikat dengan kebaikan.

Courtesy : Sabili

Friday, December 31, 2010

Tetaplah Optimis Melihat Kehidupan

Setiap saat, detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun, terus umur kita akan berkurang. Setiap pergantian tahun, berarti umur kita semakin bertambah. Bertambah tua. Berarti pula umur semakin berkurang, dan kematian semakin dekat.

Tak ada yang tidak akan meninggalkan dunia yang fana ini. Ketika datang ajal. Semuanya kita tinggalkan.Tak ada yang dapat kita bawa ke alam kubur.

Kita yang telah menghabiskan seluruh umur kita, sepanjang tahun untuk bekerja, mengumpulkan materi itu, akhirnya akan kita tinggalkan. Kita akan berpisah dengan semua itu. Isteri, anak-anak,rumah, kenderaan, dan bentuk-bentuk harta-benda lainnya, pasti akan kita tinggalkan.

Tak pantas manusia seluruh hidupnya hanyalah diorientasikan hanya untuk mengejar dan mendapatkan materi. Padahal, materi itu semuanya, dan seluruh kehidupan di dunia ini akan berpisah dengan kita, dan kita tinggalkan, saat ajal menjelang. Ilusi-ilusi atau khayalan manusia, yang ingin mendapatkan kenikmatan dunia secara berlebihan itu, semuanya hanyalah ilusi atau khayalan.

Manusia akan dibatasi oleh umur dan kematian. Saat umur menjelang tua, kemampuan fisik akan semakin renta, tak lagi bernilai harta yang begitu banyak.Tak dapat membuat manusia terus berilusi dengan berbagai khayalan tentang kenikmatan dunia.

Manusia yang renta tak akan lagi dapat menikmati semua harta yang melimpah. Bahkan, terkadang orang yang sudah menjelang usia di atas 50 tahun pun, makannya pun sudah tidak bebas, karena keterbatasan pisik. Apalagi bila telah terkena diabet. Semuanya bentuk kenikmatan yang ada di depan matanya hanya menjadi khayalan, tak dapat dinikmatinya. Ini sejatinya manusia. Manusia memiliki kendala, manusia memiliki keterbatasan, dan tidak ada yang kekal atas diri manusia.  Tidak ada lagi kemampuan pisik yang dapat menopang ilusi dan khayalannya. Semuanya khayalan akan berakhir.

Ingatlah kematian pasti akan tiba. Kematian pasti akan dihadapi oleh manusia. Tidak akan bisa pergi dan mengelak dengan datangnya kematian. Siapapun adanya.

Malam ini mungkin masih akan berpesta pora, dan menikmati guratan-guratan kembang api, menikmati musik, menikmati pergantian tahun, pesta-pesta, menikmati makan-makanan yang enak, menikmati berpergian ke luar negeri, dan pergi ke tempat-tempat yang memiliki keindahan alam di tempat-tempat yang eksklusif bersama keluarga. Tetapi semuanya itu pasti akan berlalu. Tidak lama.

Malam ini sebagian orang akan menikmati pergantian tahun. Ingatlah setiap pergantian tahun itu, berarti umur kita akan berkurang. Maka ingatlah setiap pergantian tahun, dan tahun yang sudah kita lalui itu, adakah kehidupan kita semakin baik. Semakin dekat dengan Sang Pencipta? Atau semakin jauh dari Rabbul Alamin?

Kematian sebagai kemestian yang tidak dapat ditawar oleh siapun. Hanya bagaimana cara kita menghadapi kematian? Banyak orang memilih cara menghadapi kematian. Ada dengan pesta dan mabuk-mabukan, disertai dengan perbuatan maksiat lainnya. Ada pula dengan selalu mengingat Tuhannya, dan berbuat baik kepada sesama. Inilah pilihan yang harus dipilih  oleh manusia.

Ada yang membuat  selalu optimis dan akan selalu memotivasi kita untuk berbuat baik, manakala kita selalu mengingat tentang kematian dan adanya kehidupan akhirat. Itulah yang akan selalu membuat kita untuk berbuat kebajikan. Berbuat kebajikan bagi bekal kehidupan kita di akhirat nanti.

Yakinlah kita kebaikan sekecil apapun nilainya, pasti akan mendapat balasan, dan berbuat kejahatan sekecil apapun juga akan mendapatkan balasan. Tak ada yang luput dari pengawasan Allah Ta'ala atas segala perbuatan yang sudah kita lakukan.

Diakhirat nanti kita akan mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya atas segala amal yang sudah kita lakukan. Yakinlah. Wallahu’alam.